Kamis, 04 Desember 2014

BBM oh BBM

Disaat harga minyak dunia turun, dengan gagahnya Sang Presiden mengumumkan kenaikan harga BBM. Seorang yang berani dan kesatria, itulah pujian dari partai pendukungnya yang dahulu berjuang mati-matian menentang kenaikan harga BBM saat berada diluar pemerintahan. Begitu kembali memegang tampuk kekuasaan langsung berbalik arah, itulah gambaran pemimpin kita saat ini.


Ciri-ciri orang munafik ada tiga; jika berkata dusta; jika berjanji inkar; dan jika dipercaya khianat (Hadist). Ketiga kategori itu telah dipertontonkan dihadapan kita. Apalagi yang bisa diharapkan? Seribu satu alasan bisa dikemukakan demi pembenaran setiap tindakan yang dilakukan, namun faktanya yang kita alami adalah kesulitan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.


Sebagai rakyat biasa, apa yang bisa kita lakukan? Melihat dan mengurut dada. Hanya bisa menerima dengan hati tak rela. Paling-paling hanya bisa mengoceh dan merutuk dihadapan teman. Itu saja. Tanpa ada dampak apa-apa. Mengutuk di dalam hati, dan berharap agar situasi ini segera berakhir.


Tahukah anda, bahwa saat ini harga minyak dunia dibawah $70 /barel. Di Amerika Serikat dijual $2.2 /galon yang apabila di rupiahkan dan ukurannya dijadikan liter menjadi sekitar Rp. 8.200. Berarti negara beruntung sebesar 300 rupiah. Benarkah?


Tidak. Rakyat telah dibodoh-bodohi. Tahukah anda bahwa BBM yang dijual di Amerika memiliki kwalitas setara dengan Pertamax Plus yang harganya 12.300 /liter. Sedangkan kwalitas premium yang kita beli 8.500 /liter adalah kwalitas paling rendah.yang kalau di jual dengan harga pasar sebesar 6.900 rupiah jika minyak diimpor dari negara lain. Berapakah keuntungan negara?


Sampai saat ini ongkos produksi pengolahan minyak tidak pernah dipublikasikan. Sebagai negara penghasil minyak, tentu harga 6.900 itu masih bisa di tekan lagi. Silahkan beri penilaian kepada pemerintahan sekarang. Apakah mereka benar-benar berpihak kepada rakyat? Dan bagi para pendukung fanatiknya, cobalah berpikir rasional dan jangan membela dengan membabi-buta.


Kita tak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa melihat dan menunggu apa yang terjadi selanjutnya dan tetap menjalani kehidupan ini dengan keprihatinan. Biarlah sejarah yang akan mencatat dan menilai semua ini sebagai warisan kita kepada generasi mendatang. Semoga anak cucu kita dapat mengambil pelajaran dari sejarah kita dimasa sekarang ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar